Siapa aku?

Sebenarnya ceritaku ini adalah pengalaman pribadi, sekarang mumpung aku ingat.. aku akan menceritakannya…, begini ceritanya..

Sejak aku menikah dengan suamiku, aku memang banyak berubah…terus berproses ke arah yang insyaallah baik.
Saat aku menikah dengan suamiku, dia masih berstatus mahasiswa S2, setelah menikah aku langsung hamil… Jadi saat aku hamil suamiku belum juga kelar kuliahnya, aku sangat kuatir dan terus berdoa supaya suamiku dimudahkan dalam menyelesaikan tesisnya dan aku ‘mendikte’ Allah agar secepatnya Allah membantu suamiku lulus sebelum semester ini berakhir karena jika tidak nanti semester depan mesti bayar SPP lagi, kami tidak ada uang untuk membayarnya.. Apalagi kami juga perlu uang untuk biaya kelahiran anak kami. Tapi Allah Maha Bijaksana suamiku bisa lulus S2 di awal semester yang baru dan tetap harus membayar SPP tapi di diskon 50%. Alhamdulillah.
Tidak lama setelah dinyatakan lulus, ada lowongan Dosen di Universitas almamaternya. Suamiku mendaftar, dan sebagai istri, aku membantunya dengan doa, Alhamdulillah lulus. Tapi kemudian …ada masalah menyertai berita gembira itu, beberapa pihak memprotes penerimaan dosen baru tersebut. Saat itu aku sekali lagi mendikte Allah supaya menolong suamiku agar segera terlepas dari masalah itu dan bisa menjadi dosen seperti cita-citanya.
Tapi… setelah anakku lahir dan belum genap 40 hari, terbitlah surat pembatalan keputusan penerimaan suamiku sebagai dosen dan itu tepat di hari suamiku di wisuda.
Setelah kejadian itu keluarga baru kami seperti tidak tahu arah tujuan. Keluarga kami tidak punya sumber pendapatan…jelas sebagai ibu rumah tangga aku kuatir bagaimana kami bisa makan, bayar kontrakan, dsb…
Aku terus berharap ada keajaiban dan terus berdoa sama Allah supaya suamiku bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Dan suamiku juga tidak berputus asa, terus berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Walaupun keadaan kami penuh keterbatasan tapi kami tidak kekurangan. Alhamdulilah.
Beberapa waktu kemudian ada informasi beasiswa studi ke Australia, sekali lagi suamiku berusaha memenuhi persyaratannya dan aku membantunya dengan doa. Alhamdulilah suamiku lolos tahap pertama, selanjutnya disyaratkan untuk meminta surat rekomendasi dari dosen senior dari Australia 1 orang dan 3 orang dari Indonesia. Disinilah yang Allah menguji kami sekali lagi, dosen senior dari indonesia yang sudah mengatakan bersedia memberikan surat rekomendasi ternyata lupa dan malah ditinggal pergi ke luar negeri, sedangkan waktunya sudah tidak mungkin untuk menunggu, dan akhirnya suamiku belum bisa mendapatkan beasiswa itu….sampai keluar surat dari pihak pemberi beasiswa bahwa suamiku tidak lolos ke tahap berikutnya, aku terus memohon sama allah supaya ada keajaiban dan suamiku bisa mendapatkan beasiswa itu. tapi begitulah klo Allah sudah berkehendak…
Sempat aku kecewa sama Allah kok ada aja rintangan kami, tapi kemudian aku berpositif thinking, mungkin Allah punya hadiah buat kami, yang lebih baik dari semua itu, dan aku terus mendesak bertanya, apa itu? Apa hadiah buat kami? Kapan Allah akan memberikan hadiah itu buat kami..rasanya aku sudah tidah tidak sabar lagi….
Tapi aku masih merasa Allah sayang sama keluarga kami walapun dengan bekerja freelance suamiku bisa menghidupi kami dengan layak bahkan kami bisa membeli rumah saat usia perkawinan kami masih 2,5 tahun dan anak kami masih berusia 1,5 tahun. Alhamdulilah.
Lama-lama aku melupakan doaku ; supaya suamiku bisa jadi dosen dan bisa sekolah setinggi-tingginya. Dan harapan memang kelihatan tipis sekali. Sampai kemudian akhir tahun 2008 ada lowongan dosen di Madura. Suamiku sangat antusias menyambut peluang itu, dia mempersiapkan diri dengan baik dan aku membantunya dengan doa, tapi sudah tidak ngotot seperti dulu, yang ini malah seperti pasrah aja. Dan sekali lagi ini belum menjadi rejeki kami karena untuk menjadi dosen PNS memang tidak bisa lintas jurusan.
Aku lebih bisa legowo menerima kegagalan ini. Dulu sudah pernah kan…?
Setelah itu ada tawaran kerja di Semarang dengan iming-iming gaji dolar dan klo dirupiahkan sekitar viii jtan. Jujur aku sedikit girang, aku berpikir tentang keadaan yang akan menjadi cerah. Tapi aku tidak mau suamiku kerja setengah hati atau terpaksa, aku ingin suamiku bekerja di pekerjaan yang dia memang 100% suka, sehingga bisa bekerja dengan senang hati dan itu penting. Jadi keputusan aku serahkan sepenuhnya sama suamiku.
Hampir bersamaan datang lagi lowongan dari salah satu perusahaan anak cabang, dengan gaji yang lumayan. Klo ga salah sekitar v jt plus bonus dan askes untuk semua anggota keluarga dan lokasinya kantor di jogja.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya memilih yang di jogja aja.
Tetapi Allah sekali lagi punya pertimbangan lain….
Pada saat penantian pengumuman penerimaan pegawai di lembaga tersebut, tiba-tiba suamiku mendapatkan tawaran untuk menjadi dosen di lembaga pendidikan yang masih dibawah nama universitas almamaternya. Tentu saja suamiku senang sekali dengan tawaran tersebut karena memang itulah cita-citanya. Saat dia menceritakan kepadaku, aku bisa melihat matanya berbinar-binar.
Kebalikannya dengan aku, aku sangat takut dan aku mencemaskan banyak hal…..
Aku ingin marah dan tidak tahu pada siapa?
Dan kecewa sama Allah, kenapa kok seperti ini?
Kenapa Allah membelok-belokkan nasibku?
Banyak pikiran buruk memenuhi otakku, salah satunya adalah gaji yang kecil sedangkan pengeluaran keluarga kami saat ini sudah sangat besar karena ada cicilan rumah, motor, premi asuransi dsb. Dari mana kami mendapatkan tambahan sedangkan waktunya akan tersita dikampus dari pagi sampai sore setiap hari. Jujur pada saat itu aku berpikir aku lebih suka suamiku menjadi freelance aja…. tapi suamiku mengatakan bahwa ini demi masa depan.
Akhirnya aku pasrah, tapi aku membutuhkan waktu untuk refreshing ke kampung halaman selama beberapa hari sampai aku bisa tenang dan bisa berpikir dengan jernih.

Dan saat aku kembali dari kampung halaman,
Ya….sadar….
“selama ini aku terlalu sombong dan tidak tahu diri… siapa aku??”
bukankah…cerita lakon… itu  terserah dalang”
“aku ini hanya manusia lemah dan tidak berdaya…Allah lah yang punya kuasa atas semuanya”
“Siapa aku kok semau gue mengatur Allah, terserah Allah, hendak menjadikan hidupku menjadi seperti apa? Siapa aku kok mendikte Allah? Terserah Allah hendak memberi apa? kapan diberikan? kapan diambil lagi? itu urusan Allah. Aku ini hanya manusia, skenario hidupku ya terserah Allah.”
Sejak saat itu, inilah yang aku yakini. Aku pasrah akan pilihan Allah. Kita gak usah ngotot karena pilihan Allah pasti adalah yang terbaik untuk kita.
Aku ingin mengingat kalimat-kalimat terakhir itu….supaya dalam menghadapi liku-liku hidup ini, aku lebih bisa sabar dan pasrah saja sama Allah, Karena Dia Maha mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Cerita ini kutulis tanggal 30 Juli 2009. 00:05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: