Married Life

27 Juli 2005 saya menikah, sampai sekarang ketika saya menulis ini, pernikahan kami sudah berumur sekitar 8tahun,
Selama kehidupan pernikahan ini saya dan suami menemui banyak masalah dan rintangan, yaah normalnya orang hidup, jika sudah terbebas dari masalah selama2nya itu artinya kita sudah di surga🙂

Berkali2 saya merasa salah memilih pasangan, tapi berkali-kali pula saya merasa sangat beruntung dipasangkan dengan dia.
Berkali2 saya ingin berpisah, tapi saya juga takut kehilangan.
Jodoh saya adalah pilihan Allah, dan Allah tdk pernah salah pilih, dia adalah yg paling tepat buat saya. Saya meyakini itu.

Baik saya menikah dengan dia, atau menikah dengan yang lain, atau tidak menikah sekalipun, saya juga pasti berhadapan dengan masalah, jadi pastinya suami bukan satu2nya sumber masalah, masalah itu datang dari mana2, klo saya renungkan justru banyak masalah yang datang dari diri sendiri.

Kadang karena kita menaruh harapan terlalu tinggi kepada pasangan kita, kita berharap suami kita suami ideal seperti suami-suami yang lain yang selau siap antar jaga, mau bantu pekerjaan rumah tangga, mau bantuin merawat anak-anak, selalu bisa antar ke dokter, selalu perhatian, nelpon tiap hari , sms lapor lagi ngapain? Dimana? Sama siapa? sudah makan atau belum? makan apa? Dan tidak boleh lupa mengucapkan pasword :I love you, dll.

Padahal kenyataannya kita punya pasangan tipikal bebek cuek cuek, akhirnya kita kecewa, trus menuntut, truss masalah kecil itu lama kelamaan menjadi semakin besar seperti gulungan bola salju dan akhirnya menganggap ‘masalah kecil’ ini sudah cukup besar untuk dijadikan alasan berpisah.

Padahal berpisah dengannya juga tidak ada jaminan bahwa hidup kita akan lebih bahagia kan?

Saya menikah bukan dengan robot yang bisa saya remote, sejak sebelum menikah dia adalah manusia seutuhnya, dia punya ciri, watak, kebiasaan, hobi, dan cita-citanya sendiri,
Saya juga sama seperti itu dan ketika sudah menikah bukan berarti harus merubah semuanya. kita bukan satria baja hitam yang tiba2 bisa BERUBAH ! ada yang bisa berubah otomatis sesuai keadaan, ada yang berubah melalui proses, ada juga yang tidak bisa berubah.

Saya menikah dengannya, juga tidak berarti saya bisa memiliki dia seutuhny 100%, oÕº°˚˚ºoђ ternyata tidak to?
Iya, karena dia milik Allah, milik orang tuanya, milik saudaranya, milik intitusi kerjanya, milik teman2nya, milik dirinya sendiri, klo mobil itu istilahnya ‘plat kuning’🙂
Kami ini hanya teman hidup.
Kami menikah hanya untuk status sebagai suami istri.
Ǐƴααα☺°◦°◦ ternyata…. hanya teman dan menikah hanya status….😦 . Tapi saya ingin menjadi teman hidup yang setia, menjadi sahabatnya yang menyayangi dan mengasihi sampai ajal memisahkan, menjadi teman seperjuangan dalam kehidupan ini. bersama-sama meningkatkan kualitas hidup di dunia dan mencari bekal akherat, dan karena kami punya anak maka kami bekerjasama mendampingi dan mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya . itu saja.

Saya bukan manusia yg sempurna,  jadi saya tidak berhak menyalahkan suami saya atas segala kekurangannya, saya tidak bisa merubah siapapun walaupun orang itu adalah suami saya, kecuali orang tersebut memang mau berubah, dan saya tidak mau membuang energi saya untuk memikirkan ketidakmampuan saya.

Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, jadi tidak perlu merasa telah berbuat banyak, menjadi orang yang mengusai rumah, maka memang sudah seharusny saya bersih2 rumah, ketika saya sendiri dengan anak-anak ya memang tugas saya menjaga dan membimbing anak-anak. bahkan jika suami saya tidak dirumah, maka saya harus bisa menggantikan peran bapak untuk anak-anak saya: memperbaiki sepeda anak-anak, mengajak jalan-jalan anak-anak? saya bisa.

saya pikir, jika dia masih bertahan dengan saya, itu bukan berarti bahwa saya baik,  tapi karena suami saya selalu memaafkan setiap kesalahan saya dan menerima saya kekurangan saya, jadi rasanya saya tidak pantas mengatakan bahwa saya sudah cukup bersabar.  Pasangan juga pasti bersabar dengan saya, hanya saja kaum pria biasa tidak mengeluh, begitu kah bapak2?🙂

Jika saya memang tidak bisa merubah keadaan, maka saya harus berdamai dengan keadaan. sehingga saya tidak perlu capek/lelah memberontak terus menerus.

Suami saya memang sudah capek bekerja di luar rumah jadi wajar jika tidak bisa membantu pekerjaan di rumah. Tuntutan kerja nya memang memaksanya untuk menghabiskan waktu di luar lebih banyak dan hanya bisa memberikan sedikit waktu untuk keluarga. Dan supaya saya tidak bosan dengan rutinitas rumahan, dia mensuport saya untuk supaya punya kegiatan lain syukur-syukur yang menghasilkan uang, supaya ada reward dan semangat (jadi hasil akhirnya adalah… all by my self: ngurus rumah, ngurus anak2 + nyari uang🙂 berasa seperti sedang beracting menjadi single parent dengan 3 anak (2 anak+ 1 bapak).  tapi memang klo dipikir semua pasti ada hikmahnya,  ini adalah bentuk pelatihan ke saya. Saya jadi mandiri, dan lebih tahan bating🙂

Lagipula saya juga tidak setiap saat dan setiap waktu menderita. walaupun kadang berasa jungkir balik sampai tidak tau mana kaki mana kepala jika sedang sangat sibuk, tapi kadang saya juga punya me time jadi bisa nonton drama korea favorite bahkan sampe episode terakhir. Kadang susah sekali membagi waktu antara anak2- rumah-bisnis, tapi saat semua bisa selesai saya juga merasa puas dan layak dapet hadiah.

8 tahun hidup bersama dia sudah memberi saya banyak kebahagiaan, apapun permintaan saya dia lebih sering berkata ‘ya’ dari pada ‘tidak’, dia sangat percaya saya bahkan dia tidak pernah menanyakan uang nya saya habiskan buat apa saja?. dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga sambil tetap punya cita-cita nya sendiri.  saya suka dia yang optimis dan pantang menyerah, klo saya ingat itu saya juga jadi ketularan semangatnya. dia selalu berhasil menjinakkan emosi saya dan selalu menenangkan saya, dan yang penting dia masih pulang ke rumah.

Saya percaya Tuhan tidak pernah salah pilih, mungkin karena saya seperti ini, maka saya dipasangkan dengan orang seperti dia,

8 thn sudah bisa kami lalui dengan baik dan bahagia, selanjutnya saya pasti bisa,

Saya menulis ini untuk seorang teman perempuan saya yang hampir putus asa dengan pernikahannya, ketika saya bercerita tentang keadaan saya dia sempat berkata: “.. klo aku ya ndak sanggup klo kaya gitu, ndak nunggu lama pasti aku dah minta pisah dari dulu”

🙂 “iya mba, Tuhan memilihkan yang lebih sesuai untuk kita, jadi mestinya bisa bersyukur kan?”

Kebahagiaan itu tidak dicari tapi diciptakan… Kebahagiaan itu adanya di dalam hati, jika kita ingin bahagia maka kita harus berdamai dengan hati. …Kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang bersyukur. jadi, siapkan hati kita untuk menjadi bahagia dengan memenuhinya dengan rasa syukur.

have nice relationship ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: